Pada tahun 2025, masyarakat Desa Mallari kembali melestarikan tradisi Mappaddekko, sebuah kesenian tradisional masyarakat Bugis yang dimainkan dengan menggunakan alu dan lesung. Dentangan yang dihasilkan bukan sekadar bunyi yang memeriahkan suasana, tetapi menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan penghargaan terhadap warisan budaya leluhur.
Pelaksanaan Mappaddekko menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, bekerja sama, dan menjaga hubungan kekeluargaan. Setiap orang memiliki peran dalam menyukseskan kegiatan, sehingga nilai kebersamaan, kepedulian, disiplin, dan tanggung jawab dapat tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat.
Tradisi Mappaddekko juga dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi. Semangat gotong royong mengajarkan kepedulian, pembagian peran menumbuhkan tanggung jawab, sementara pelaksanaan kegiatan secara jujur dan terbuka mencerminkan integritas. Masyarakat juga diajak untuk menghargai hak orang lain, tidak mengambil sesuatu yang bukan miliknya, serta mengutamakan kepentingan bersama.
Melalui Mappaddekko, masyarakat Desa Mallari menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pembangunan karakter masyarakat yang berintegritas. Dentangan alu dan lesung pun menjadi pengingat bahwa semangat kebersamaan, kejujuran, dan tanggung jawab perlu terus diwariskan kepada generasi penerus.