Pada tahun 2025, Songko Recca tetap menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat Desa Mallari. Warisan budaya ini digunakan dalam berbagai kegiatan adat dan tradisi masyarakat, seperti acara Mappacci dan pernikahan, sebagai bagian dari busana tradisional yang mencerminkan identitas serta penghormatan terhadap adat Bugis. Penggunaannya dalam berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Desa Mallari terus mempertahankan warisan leluhur di tengah perkembangan zaman. Selain Mappacci dan pernikahan, Songko Recca juga digunakan dalam berbagai kegiatan dan tradisi budaya masyarakat Desa Mallari. Kehadirannya bukan sekadar sebagai pelengkap pakaian, tetapi menjadi simbol kebanggaan terhadap budaya daerah dan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi terdahulu.
Pelestarian Songko Recca tidak hanya dilakukan melalui penggunaannya. Warga Desa Mallari juga memiliki keterampilan dalam membuat Songko Recca secara tradisional. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian, kesabaran, kedisiplinan, serta kerja keras. Keterampilan tersebut menjadi pengetahuan lokal yang terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar keberadaan Songko Recca tetap terjaga.
Budaya pembuatan dan penggunaan Songko Recca juga sejalan dengan nilai-nilai antikorupsi. Kejujuran dalam menjalankan pekerjaan, tanggung jawab terhadap hasil karya, disiplin dalam proses pembuatan, kerja keras, kemandirian, serta sikap menghargai hasil karya orang lain merupakan bagian dari karakter berintegritas. Dengan demikian, pelestarian Songko Recca di Desa Mallari bukan hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai kejujuran dan integritas dalam kehidupan masyarakat.
Melalui penggunaan dan pembuatan Songko Recca, masyarakat Desa Mallari menunjukkan komitmen untuk menjaga budaya, menghargai warisan leluhur, serta membangun masyarakat yang berbudaya dan berintegritas.